Kompas yang mengetahui sudut,
Arah kita melaju.
Peta yang mengetahui segala,
Bentukan medannya.
Lalu kita yang menentukan,
Perjalanannya.
Aku yang telah tersesat karena,
Kompas,
Peta,
Penentuan perjalanan yang tidak tepat.
Mengakibatkan apa yang tidak di inginkan terjadi.
Senja kembali datang di hutan tunggul,
Namun yang ini sekarang berbeda,
Aku yang berfikir lebih keras karena ketakutan,
Untuk tidak bisa pulang.
Sejenak berfikir untuk sudah berdiam dan berpasrah.
Namun Tuhan, kuasa-Mu
Doa ibuku,
Lalu nona, doa-mu juga dan rasa ingin bertemu denganmu
Membangkitkan apa yang terpendam,
Kupaksa diriku melebihi dari biasanya.
Otak, yang kupaksa berfikir lebih keras.
Kaki, yang kupaksa berjalan lebih cepat.
Mata, yang kupaksa melihat lebih teliti.
Tubuh, yang kupaksa melebihi dari sebelumnya.
Dan akhirnya titik akhir dari perjalanan tersebut,
Berhasil ditemui,
Syukur padaMu tak berhenti kupanjatkan.
Doa ibuku yang menjadi pelindung
Lalu rasa ingin bertemu denganmu nona, menjadi semangat
Esok aku akan pulang,
Kembali ke hiruk pikuknya hidup perkotaan,
Yang penuh dengan drama-drama buatan,
Perasaan buatan pula,
Manusia-manusia palsu yang terlihat peduli.
Kembali juga menghadapi masalah-masalah yang ada
Namun yang ini, sekalipun peta dan kompas tidak bisa membantu
Hanya kuasaNya, doa ibu, lalu nona yang bisa membantuku.
Apakah lebih baik hidup di hutan ?
Tersesat pun tak apa,
Setidaknya kita bersama-sama
Lalu saling menolong untuk bisa pulang kembali.
atau
Apakah lebih baik hidup di kota ?
Dengan manusia-manusia berlagak peduli,
namun nyatanya menusuk lalu masih berlagak peduli.
Sanggara, 24 Febuari 2018
