Kawanku

Ah kawan, kembali lagi kau datang ke gubuk kecil dengan penuh banyak cerita cinta maupun sedih yang megah. Tiba-tiba saja kau mengetuk pintu gubuk itu. Sudah aku pastikan ada sesuatu yang tidak mengenakan menghampirimu. Entah apa itu namun aku yakin bahwa ada sesuatu yang memilukan.

Kubukakan pintu gubuk itu, kupersilahkan masuk dan kawan matamu terlihat tidak seperti biasanya, sikap yang selalu ada untuk mencairkan suasana tidak nampak sore itu. 


"Langsung saja, tapi tunggu aku mau membuat satu cangkir kopi untuk kita berdua"


Sudah hakikatnya kopi harus hadir dalam diskusi apapun. Sedih maupun senang. Kopi dari daerah Garut yang menjadi saksi diskusi kita kali ini. Ah kawan, maafkan hanya satu cangkir, stok persediaanku sudah hampir habis.


Setelah satu cangkir kopi hadir ditengah kita, ku bakar satu gumpalan tembakau. Ya hari itu aku kembali menghisap benda itu, hanya untukmu kawan, agar aku bisa mendengar dengan jelas apa yang ada di hatimu itu. 


"Jadi begini...." Kau membuka percakapan ini, tak perlu aku menceritakannya disini.


Singkat, kita telah berdiskusi sekian lamanya, untukmu kawan benar yang tidak kita inginkan telah terjadi dan kawan jika kau menerima saranku, sudah kuceritakan bukan ? Aku bukan pemberi saran yang baik, tapi ada satu orang bijak yang pernah berkata padaku, begini katanya


"Jika kau sudah merasa telah memberikan semuanya, aku pertaruhkan segalanya kalau kau belum memberikan ini. Meninggalkannya"


Ah kawan, sudah dulu aku berada di kios belokan belakang kampusku, sekarang sudah mulai banyak orang. Nanti kulanjutkan lagi. Ingat kawan usaha tidak pernah membohongi prosesnya namun hal itu mungkin tidak pernah terjadi padamu. Sabar kawan.