Aku bukanlah seseorang yang memberikan berbait puisi penyair terkenal kepadamu
Aku hanya sang pejalan itu,
Yang pernah menapakan kakinya pada keheningan
Aku bukan juga seseorang yang menunggumu tiap sore hingga malam tiba
Aku hanya sang penikmat matahari terbenam yang digantikan rembulan,
Yang memikirkanmu tiap saat
Ingatkah dengan kata-katamu?
Begitu pula ucapmu padanya, Tuan.
Mari, Tuan. Aku juga menunggumu!
Ditiap rembulan akan menampakannya dirinya
Ditiap para penyair menuliskan puisinya
Ditiap hari pada minggu-minggunya
Ditiap bulan ke berapapun
Ditiap alunan-alunan lagu apa saja
Jika hendak bertegur sapa,
kau tau aku selalu ada di sekitarmu, Tuan.
Aku hanya sang pejalan itu,
Yang pernah menapakan kakinya pada keheningan
Aku bukan juga seseorang yang menunggumu tiap sore hingga malam tiba
Aku hanya sang penikmat matahari terbenam yang digantikan rembulan,
Yang memikirkanmu tiap saat
"Kutunggu di hari ke-5
ditiap minggunya saat malam
mulai menampakannya dirinya"
"Tunggu pula nanti saat bulan ke-5"
Begitu pula ucapmu padanya, Tuan.
Mari, Tuan. Aku juga menunggumu!
Ditiap rembulan akan menampakannya dirinya
Ditiap para penyair menuliskan puisinya
Ditiap hari pada minggu-minggunya
Ditiap bulan ke berapapun
Ditiap alunan-alunan lagu apa saja
Jika hendak bertegur sapa,
kau tau aku selalu ada di sekitarmu, Tuan.
