Dua cangkir kopi yang tidak berisi
Remangnya lampu kedai ini
Lantunan pengeras suara diluaran yang silih berganti
Orang-orang kota masuk dan keluar sesuka hati
dan sebelumnya
Berkeliling tanah pasundan
Dibawah teriknya matahari kota
Sedang panas sangat terasa
lalu sesudahnya
Bertemu dengan insan-insan itu
Menjalankan kewajiban yang belum tersusun
Di malam dengan dingin yang cukup menusuk
Dan terpisah sudah
Tepat sebelum hari silih berganti
Senyap,
Sunyi,
Lalu takut.
Angin-angin menyapa tubuh
Meninggalkan jejaknya
Kutatap tiap lampu kota
Berharap hari masih panjang
Agar kita bisa bertemu lebih lama
Ingatan satu hari itu
Menjadi penghangat dikala malam menunjukan kualitasnya
Lalu dengan seketikanya
Terbaring di gubuk kecil
dengan nafas yang kian tak teratur
Esok kita kan jumpa ?
Kuharap, iya.
Hari setelah esok ?
tentu tidak, sayang.
Tidurlah nona.
Karena disana tidak ada batasan untuk kita saling berjumpa
Karena disana kita saling bertatap tanpa waktu yang mengejar
Disana juga kita menjadi kita
Ah sayang, mungkin esok atau hari setelahnya
Aku akan terbaring diruangan itu
Tinggal waktu yang menentukan
Semoga tidak.
Aku bersyukur atas hari ini
Bertemu denganmu
Menemanimu menjalani kewajibanmu
Memelukmu dengan jaket itu
Hingga malam yang memisahkan
Senja yang dihabiskan bersama
Berdiskusi tentang apa-apa
dan saling menguatkan
Bisakah kita lakukan itu lebih lama, sayang ?
Selamat Malam, nona.
