Kini kapal itu berlabuh
Lalu jangkarnya diturunkan
Suara desiran ombak
Lalu dengan burung-burungnya
Membuat siapa-siapa disana menetap lamanya
Kini penyair itu menemukan perasaannya
Lalu penanya digerakan
Suara kertas tergores
Lalu hitam tintanya
Membuat siapa-siapa disana menangis akan perasaannya
Kini pejalan itu mengerti
Lalu kakinya melangkah
Suara tanah yang terinjak
Lalu nafasnya
Membuat siapa-siapa disana acuh
Lalu,
Malam memang terlalu malam
pulanglah,
pada rumah itu
atau rumahmu yang sekarang
Rumah dimana puan merasa nyaman
atau,
Rumah dimana ada yang memikirkan dan atau mengkhawatirkanmu
Pulanglah.
Kapal itu,
Penyair itu,
Pejalan itu,
Memiliki rumahnya masing-masing
Pada pelabuhan,
Pada puisinya,
Pada langkah-langkanya,
Pulanglah
Pada rumah itu
atau
Pada rumah semestinya rumah
cukup dia yang bersuara
cukup dia yang merangkai kata-katanya
cukup dia yang menatap langit kelam itu
sedang kau ?
Hanya diam saja
Hanya melihat saja
Hanya mendengar cerita tentang si langit kelam
Bagaimana jika?
Kalian berdua yang bersuara
Kalian berdua yang merangkai kata-katanya
Kalian berdua yang menatap langit kelam
Lalu,
Yang kelam akan cerah
Pulanglah,
Pada rumah yang semestinya rumah.
"Puan, Bagaimana ?
Aku hanya seorang pejalan
Bukan penikmat dialog perkotaan
Bukan juga penikmat manisnya sirup
Puan, rumahku adalah kamu
Karena kurasa kamu
yang memikirkan dan mengkhawatirkanku
semoga saja begitu adanya
Puan, rumahmu yang itu
ku yakin kau nyaman disana
tapi
ada sesuatu yang menjanggal dihatiku
ketakutanku
kekhawatiranku
ke keanak-kanakanku
dan keegoisanku
membuatku memohon,
untuk mengangkatkan kakimu dari sana
dari rumah itu
karena kamu, kini lalu nanti
tetap yang kuamini dalam doa-doa
untuk mengangkatkan kakimu dari sana
dari rumah itu
karena kamu, kini lalu nanti
tetap yang kuamini dalam doa-doa
pulanglah, sayang."
selamat malam untuk semesta,
izinkan aku untuk beristirahat
kumohon, jaga ia untuku
berikan mimpi yang indah untuknya
hilangkan perasaan buruknya
aku hanya seorang pujangga yang mengelana
dengan hiruk pikuk kehidupannya
dan berusaha membahagiakannya.
sayang, ingatkah kutipan lagu ini ?
sayang, ingatkah kutipan lagu ini ?
"dengan-mu tenang
tak terfikir dunia ini
karena-mu tenang
semua khayal seakan kenyataan"
semoga kau teringat dengan lagu terakhir yang kita dengarkan bersama
saat malam bersama menatapi langit-langit perkotaan menuju tempat itu
kumohon dengarkanlah lagi sekarang sebelum kau terlelap
selamat malam ibundaku yang setengah malaikat
selamat malam juga sayangku"
