Mari Bercerita III

Ini dia Akbar saudaraku yang satunya, dia sama dengan Arab pertemuanku dengannya tidak berbeda jauh dengan Arab aku menjadi siswa sedang ia instrukturku saat itu. Akbar dan Arab hingga sekarang jika kupanggil salah satu dari mereka masih saja bisa tertukar namanya. Misalnya aku hendak memanggil Akbar tapi aku malah memanggilnya dengan "Rab" dan yang mengalami itu bukan aku saja melainkan orang-orang lain yang mengenali mereka juga.

Akbar hingga sekarang menjadi salah satu panutanku. Sikap dia, kelakuan dan yang lainnya memang pantas untuk ditiru, ia baik kepada siapapun bahkan kepada orang yang mungkin baru dijumpainya. Dan Akbar juga yang pertama kali mengenalkan dunia sastra kepadaku, walaupun tidak secara langsung. Tulisan Akbar berhasil membuat hati siapapun tersentuh. Mari ku kutip salah satu tulisan dari wordpressnya
Akbar Mohon maaf untuk tidak izin terlebih dahulu

dikutip dari:
pejalansastra.wordpress.com

MELUKIS ANGIN DENGAN HARAP

Tanganku melukis angin, tapi tak bisa.
Karena angin tak berupa,
gambarku khayal.
Seketika angin berputar mengitari tubuhku, seraya berkata;

“Kini aku sudah berada di atas langit,
aku ingin lebih lagi menggambar langit biru”

Ditiupkannya pasir-pasir itu ke lembahan,
mataku terpejam, tak ada yang melihat.
Teriak aku dalam hati sekeras-kerasnya;

“Akhirnya aku berhasil,
membawakan awan ini untukmu,
berlarilah lagi serupa angin,
sejauh mungkin,
selelah mungkin”

Karenanya tidak berupa, maka ku lukis angin dengan harap;

“Berterbangan jauh angin-anginmu,
menyusur puncak-puncak tinggi,
menyusur dalam-dalam jurang.
Berlarilah lagi serupa angin,
berlomba-lomba satu dengan lainnya,
sejauh mungkin,
selelah mungkin.
Lalu kembali ke berandamu,
lalu kembali ke ranjang abu.
Tiupkan lagi belukar itu,
terbangkan lagi ilalang itu”
ya itulah salah satu tulisan milik Akbar. 
Sekarang Akbar tidak di Bandung, Akbar sedang menggapai mimpinya yang menurutku tinggal beberapa langkah lagi. Ia menitipkan satu hal yang paling penting kepadaku sebelum ia beranjak
"Aku pergi dulu, tidak lama. Nitip Rumah beberapa bulan kedepan"
Begitu ucapnya dikedai kopi pukul satu malam saat itu. Dia menitipkan rumah kita, ya sudut hijau itu.
Sebisaku kujaga bar, tenang saja gapai saja mimpimu, kita disini baik-baik saja, titipkan salamku kepada saudara-saudara lain yang ada disana.
Kirim kabarmu kepada kita jika mimpimu sudah terwujud bar! Doaku dan kita semua disini selalu denganmu! Semangat!