Kedai Kopi


"Tahu kan ? Udara yang kita hirup pun sama. Langit yang kita tatap pun sama. Begitu pula dengan hujan yang kita rasakan, sama. Tapi kawan, sudikah kau berbagi ? Tanggung jawabmu sebegitu besarnya hingga sudi juga engkau berkata demikian. Pada hakikatnya manusia memang pasti merasa khawatir lalu membutuhkan cinta dan perhatian, begitu pula aku lalu kamu."

      Begitu ucap salah seorang dari dua orang yang sedang berbincang dikedai kopi. Mereka hanya berbincang terus menerus hingga lupa kopinya semakin dingin dan dingin. Alunan musik indie dari speaker kedai tersebutpun dihiraukannya. Yang satu menatapnya tajam berbicara yang satu siap menelan dan mencerna percakapan yang keluar dari mulut temannya. Mereka berbincang tentang permasalahan satu manusia yang tidak kunjung usai. Ia memaksa temannya untuk berbagi tanggung jawab yang ditanggunya. Ia hanya memendamnya dan mencari jalan keluarnya sendirian. Memang, tiap keputusan yang ia keluarkan baik untuk yang lainnya namun mungkin ia harus berfikir secara keras untuk mengeluarkan satu keputusan. Menjadikannya ia seperti orang yang gila. Ia sering kali berbicara sendiri, berdebat dengan dirinya sendiri didepan kaca cermin kamar kos-kosannya yang berukuran 3x4. Dengan kasur yang berada dibawah lalu karpet kusam dan juga laptop semata wayangnya yang menjadi temannya dikala sepi yang tiap malam ia lewati.

     Satu hari ia berdebat kencangnya dengan dirinya sendiri didepan cermin. Pukul satu malam kala itu. Ia menunjuk-nunjuk dirinya sendiri. Memukul-mukul cermin dan berteriak sendiri. Orang-orang yang berada dikosan tersebut merasakan bahwa ia adalah orang yang tidak waras. Satu kali pintunya diketuk, dibuka pintunya olehnya

"Kamu kenapa ?" Tanya orang yang mengetuk pintu

"Aku berdiskusi" Jawabnya

Tentu orang yang mengetuk pintu keherenan, karena tahu bahwa ia adalah seorang yang penting diorganisasi dan harus berdisuksi. Tapi ia berdiskusi dengan siapa ? Dia sendirian dikamarnya. Begitu fikir orang yang mengetuk pintu. Ia kembali menuju cerminnya dan kembali berdiskusi. Berteriak kembali ia didepan cermin, menunjuk kembali dirinya sendiri. Memarahi dirinya sendiri dan berdebat dengan dirinya sendiri. Tiba waktunya untuk dia beristirahat. Dihisapnya satu batang rokok, serambil ia menunggu air yang dihangatkan dikompor kecil portable miliknya satu-satunya untuk dibawanya ke gunung. Terdengar suara air yang sudah matang, dimatikan kompornya dituangkan air tersebut ke kopi yang sudah ia persiapkan diatas saringan miliknya. Biji kopi dari Gunung Manglayang yang ia pilih kali ini. Rasa asamnya yang kuat membuat ia menjadi kembali siap untuk melanjutkan perdebatannya yang tidak kunjung usai. Ia meminum dengan santainya dan dinikmatinya. Ia memutuskan untuk menghabiskan satu batang rokok dan kembali untuk berdebat dengan dirinya sendiri. Kini ia menyiapkan argumen demi argumennya untuk kembali berdebat. Berdiri ia, rokoknya dimatikan, menatap tajam dirinya sendiri didepan cermin. 

"Jadi bagaimana ? Aku sudah bilang sebelumnya jika kau tetap mengambil keputusan itu, banyak orang yang tidak akan suka, banyak orang yang akan menghinamu! Jangan lagi kau mengambil keputusan yang tidak bisa diterima orang banyak! Padahal kau mengetahuinya, itu yang terbaik !" Serunya didepan cermin.

"Ohoho sayang, ambil saja keputusanmu itu, sayang. Itu kan yang terbaik untuk kedepannya! Hiraukan saja perkataan orang lain, sayang. Jika yang lainnya tahu untuk apa kau ambil keputusan tersebut, mungkin orang lain akan mengerti dan menganggapmu benar telah mengambil keputusan tersebut" Jawabnya diri sendiri didepan cermin sambil menunjuk-nunjuk dirinya sendiri.

Diketuk kembali pintu kamar kosnya. Lalu ia membukakan pintu tersebut.

"Ikut denganku, lawanmu terlalu kuat untuk debat itu. Aku akan menjadi lawanmu sekarang, mungkin kau akan menang" Ujar teman satu kosnya.

Dan ia pun mengangguk, ia membakar satu buah batang rokok dan memakai sepatu gunung miliknya satu-satunya. Dipakai jaketnya dan menatap calon lawan debatnya.

"Mari, bantu aku untuk keluar dari masalah ini"

       Berboncengan mereka menuju satu buah kedai kopi yang ramai. Dimana para orang-orang kota menuju kesana untuk sekedar berfoto-foto dan diupload dimedia sosialnya lalu menunjukan kepada orang banyak bahwa ia sudah pernah kesina dan kerjaannya tidak hanya berdiam dirumah dan ia bisa keluar rumah malam-malam. Tempat tersebut dipilih oleh lawan debatnya. Untuk menguji seberapa fokus dirinya untuk keluar dari permasalahan tersebut sedang banyak orang disana yang berbincagng pula dan menghancurkan fokus miliknya. Satu strategi miliknya untuk menang debat malam itu.

       Sesampainya mereka disana, mereka memilih untuk duduk ditengah-tengah para orang kota yang sedang sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Entah mengerjakan kewajibannya entah juga mereka hanya menjauhkan yang dekat ataupun mendekatkan yang jauh.  

"Mau pesan apa ?" ia menawarkan kepada lawan debatnya.

"Haruskah ?" Lawannya menjawab.

"Maksudmu?"

"Maksudku, haruskah kau bertanya seperti itu ? Hakku untuk memesan apa yang aku mau dan bukan hakmu untuk bertanya, kau memiliki dua alasan untuk bertanya kepadaku seperti itu. Satu, kau membuang waktumu dan kedua, kau bingung untuk memesan apa"

"Haha, kau lawan yang sulit sesulit diriku"

Dan lawannya hanya tersenyum. Setelah mereka memutuskan untuk hanya meminum kopi saja dan mereka berdua menyalakan rokoknya masing-masing sambil menunggu pesanan mereka tiba. Mereka tidak berbincang sama sekali hanya menikmati rokoknya masing-masing dan angin malam yang lewat. Tidak bermain gadget, tidak juga mendengarkan musik elektro yang keluar dari speaker kedai tersebut. Merasa terganggu dengan musiknya, lawan debat berdiri dan menuju kasir.

"Ganti lagu, Iksan Skuter-Rindu Sahabat, jika tidak diganti, aku yang ganti lagunya"

Pegawai tersebut hanya mengangguk dan mencari lagunya lalu diputar lagunya.


"Aku rindu saat-saat kita lewati panjangnya malam
menghisap rokok nikmati kopi bicara tentang cinta dan mati
aku rindu semuanya
aku rindu semuanya
sahabatku"

Lantunan musik dari speaker tersebut yang bisa dinikmati oleh semua pengunjung kopi tersebut kini berhasil membuat mereka berdua bernyanyi dan saling tertawa bersama-sama. Kini mereka saling tersenyum dan tertawa setelah lagu-lagu dikedai tersebut berubah sebagai mana mestinya kedai kopi karena tingkah laku lawan debatnya. Setelah satu lagu usai didengarnya dan dinyanyikannya mereka berdua sekarang saling bertatap tajam. Ia melihat lawan debatnya adalah dirinya sendiri, tidak lagi temannya yang selama ini hanya diam dan mendengarkan ia berdebat sendiri dari kamarnya yang berada disebelahnya. Ia kini seperti menatap dirinya sendiri dan menyadari mungkin ia lebih dari dirinya sendiri.

"Apa masalahmu ? Baru kali ini aku mendengarkan debatmu tidak kunjung usai" Lawan debatnya menatapnya tajam.

"Aku ditempatkan dimana aku harus memutuskan satu hal" jawabnya. 

"Hal apa yang membuatmu begitu rumit"

"Kau tidak harus mengetahuinya, hal tersebut sangatlah rumit, kau tidak akan mengerti"

"Ahaha kawan, aku sudah pernah berada dititik terendah begitu pula kau, apa yang lebih rumit dan tidak bisa aku mengerti, ayolah" Lawan debatnya memaksanya.

"Kau tahu ? Aku ditanggung jawabkan untuk hal yang besar, bukannya sombong namun faktanya seperti itu. Aku harus pergi untuk melaksanakan kewajiban tapi aku pula ingin berada disana memastikan kewajiban yang lainnya tersebut berjalan sebagaimana mestinya. Mengerti ? aku harus menjadi dua untuk melaksanakan hal itu. Jika saja cermin tersebut nyata maka aku yang berada dicermin bisa membantuku. Orang-orang tidak mengerti maksudku, namun aku ingin berada dikeduanya. Memastikan kedua hal itu baik-baik saja. Jika aku pergi untuk kewajiban yang satunya orang lain berfikir aku tidak ada pedulinya, jikalau aku pergi ke yang satunya juga orang mengusirku dan mengakatan 'kenapa kamu harus kesana ?' tapi aku ingin memastikan bahwa hal berjalan sebagaimana mestinya. Ayolah! Kamu mengerti! Pasti!" Jawabnya sambil ia menggebrak meja kedai kopi tersebut.

"Tahu kan ? Udara yang kita hirup pun sama. Langit yang kita tatap pun sama. Begitu pula dengan hujan yang kita rasakan, sama. Tapi kawan, sudikah kau berbagi ? Tanggung jawabmu sebegitu besarnya hingga sudi juga engkau berkata demikian. Pada hakikatnya manusia memang pasti merasa khawatir lalu membutuhkan cinta dan perhatian, begitu pula aku lalu kamu." Jawab lawan debatnya.