Satu ekor burung terbang menuju langit
Yang satu lagi tertidur di sarangnya
Jika boleh berprasangka; yang terbang adalah pejantan dan yang satunya adalah betina
Mereka satu pasang merpati
Aku melihat sang pejantan terbang jauh
Sang betina diam disarang, menangis
Aku berjalan menapaki tanah-tanah basah karena hujan, sendirian
Kudengar suara sungai deras disana
Terlihat satu ekor berang-berang berlari kearah ku
Kuhiraukan saja dan tertawa kecil
Berjalan aku kearah sungai
Disana ada sarang si berang-berang
Terlihat satu lagi berang-berang, menangis
jika boleh berprasangka; yang berlari adalah pejantan dan yang menangis adalah betina
Kembali berjalan lalu menyebrangi sungai, sendirian
Kurasakan angin berhembus kencangnya
Hujan kembali mulai turun walau tidak deras
Berhenti aku diantara pepohonan
Mengeluarkan kompor, memasak air, menyiapkan satu cangkir gayo
Membakar satu buah rokok kemudian dihisap santainya,
Airpun mendidih, dituangkan airnya yang kemudian air tersebut bercampur dengan kopinya
Diminumnya kopi tersebut untuk membunuh waktu
Sudahlah, mari bersantai!
Kunikmati hujan, kopi, rokok dan fikiranku sejenak
Berlari lalu terbang
Menunggu lalu menangis
Mencari merpati dan berang-berang yang terbang dan berlari
Hujanpun berhenti
Kini aku akan pulang
dengan jalur yang sama; sungai dimana ada sarang si berang-berang
dan pohon dengan sarang si merpati
terdengar kembali suara sungai
Berang-berang yang berlari kembali membawa ranting-ranting
Untuknya membendung air sungai sebagai sarang
Aku tersenyum.
Berlari aku ke sarang merpati
Terlihat merpati membawakan biji-bijian
Untuk merpati lainnya yang ada disarang
Dimakannya biji-bijian tersebut
Yang terbang tidak makan karena hanya cukup untuk satu ekor
Aku tertunduk sebelumnya tengadah melihat mereka diatas
Dan sayang, seberapa jauh aku pergi
seberapa jauh aku melangkah
seberapa lama aku menghilang
dan seberapa apapun yang aku lakukan kini lalu nanti
hanya satu aku akan kembali
hanya padamu
Kini aku yang sedang terbang dan berlari
Kini engkau yang menangis lalu menunggu
Hanya satu kata yang aku tujukan; bersabarlah
Karena aku akan kembali pada rumahku
karena apapun yang aku lakukan
karena apapun yang aku impikan
tertuju hanya untuk ibunda
keluarga
lalu engkau
Kini tiga ratus enam puluh lima hari
merangkai cerita
merangkai asa
merangkai sesuatu kelak
Kini aku yang terbang dan berlari
Lalu nanti aku yang kembali dan memeluk
Kini tiga ratus enam puluh lima hari
Kita bersama
Kemudian cerita kita berlanjut hingga mati.
Yang satu lagi tertidur di sarangnya
Jika boleh berprasangka; yang terbang adalah pejantan dan yang satunya adalah betina
Mereka satu pasang merpati
Aku melihat sang pejantan terbang jauh
Sang betina diam disarang, menangis
Aku berjalan menapaki tanah-tanah basah karena hujan, sendirian
Kudengar suara sungai deras disana
Terlihat satu ekor berang-berang berlari kearah ku
Kuhiraukan saja dan tertawa kecil
Berjalan aku kearah sungai
Disana ada sarang si berang-berang
Terlihat satu lagi berang-berang, menangis
jika boleh berprasangka; yang berlari adalah pejantan dan yang menangis adalah betina
Kembali berjalan lalu menyebrangi sungai, sendirian
Kurasakan angin berhembus kencangnya
Hujan kembali mulai turun walau tidak deras
Berhenti aku diantara pepohonan
Mengeluarkan kompor, memasak air, menyiapkan satu cangkir gayo
Membakar satu buah rokok kemudian dihisap santainya,
Airpun mendidih, dituangkan airnya yang kemudian air tersebut bercampur dengan kopinya
Diminumnya kopi tersebut untuk membunuh waktu
Sudahlah, mari bersantai!
Kunikmati hujan, kopi, rokok dan fikiranku sejenak
Berlari lalu terbang
Menunggu lalu menangis
Mencari merpati dan berang-berang yang terbang dan berlari
Hujanpun berhenti
Kini aku akan pulang
dengan jalur yang sama; sungai dimana ada sarang si berang-berang
dan pohon dengan sarang si merpati
terdengar kembali suara sungai
Berang-berang yang berlari kembali membawa ranting-ranting
Untuknya membendung air sungai sebagai sarang
Aku tersenyum.
Berlari aku ke sarang merpati
Terlihat merpati membawakan biji-bijian
Untuk merpati lainnya yang ada disarang
Dimakannya biji-bijian tersebut
Yang terbang tidak makan karena hanya cukup untuk satu ekor
Aku tertunduk sebelumnya tengadah melihat mereka diatas
Dan sayang, seberapa jauh aku pergi
seberapa jauh aku melangkah
seberapa lama aku menghilang
dan seberapa apapun yang aku lakukan kini lalu nanti
hanya satu aku akan kembali
hanya padamu
Kini aku yang sedang terbang dan berlari
Kini engkau yang menangis lalu menunggu
Hanya satu kata yang aku tujukan; bersabarlah
Karena aku akan kembali pada rumahku
karena apapun yang aku lakukan
karena apapun yang aku impikan
tertuju hanya untuk ibunda
keluarga
lalu engkau
Kini tiga ratus enam puluh lima hari
merangkai cerita
merangkai asa
merangkai sesuatu kelak
Kini aku yang terbang dan berlari
Lalu nanti aku yang kembali dan memeluk
Kini tiga ratus enam puluh lima hari
Kita bersama
Kemudian cerita kita berlanjut hingga mati.
Bandung, 24 Februari 2019
