
Sebagai satu bagian dari pengungsi kota,
lucu juga rasanya, terus berdiam ditempat pengungsian,
sedang yang lain berhura-hura ditempat pengungsian, aku tidak.
Lebih banyak untuk tertidur lalu bermimpi,
begini mimpinya;
"ia memanggil hanya satu nama, hanya satu.
dipanggilnya dari jauh,
yang dipanggil tidak pernah menjawab.
sekali-kali ia teriak, tapi tetap tidak dijawabnya.
Yang dipanggil sibuk tangannya,
Yang memanggil tetap menunggunya"
Terbangun dari mimpi lalu menengok ke meja dimana kopi yang sudah dingin berada,
Duduk satu orang manusia dengan rambut sepunggung,
Menatapku yang baru terbangun dari mimpinya,
Tersenyum manisnya kemudian kudekap dan menangis dipunggunya,
"Kekasih, kemana saja selama ini"
Ia hanya tersenyum dan meneteskan beberapa air mata,
Yang menangis dipunggung hanya menangis yang peluknya tidak akan dilepasnya,
Yang dipeluk hanya tersenyum dan tidak berkata-kata.
Kemudian,
Ia tersadar dari mimpinya,
Dilihatnya meja dimana kopi yang sudah dingin berada,
Tidak seorang pun duduk dikursi itu,
Ia menunduk dan kemudian menangis,
"kekasih, dimana kamu selama ini"
Terbangun dari mimpi lalu menengok ke meja dimana kopi yang sudah dingin berada,
Duduk satu orang manusia dengan rambut sepunggung,
Menatapku yang baru terbangun dari mimpinya,
Tersenyum manisnya kemudian kudekap dan menangis dipunggunya,
"Kekasih, kemana saja selama ini"
Ia hanya tersenyum dan meneteskan beberapa air mata,
Yang menangis dipunggung hanya menangis yang peluknya tidak akan dilepasnya,
Yang dipeluk hanya tersenyum dan tidak berkata-kata.
Kemudian,
Ia tersadar dari mimpinya,
Dilihatnya meja dimana kopi yang sudah dingin berada,
Tidak seorang pun duduk dikursi itu,
Ia menunduk dan kemudian menangis,
"kekasih, dimana kamu selama ini"
Bandung, 1 April 2019