Dialog Kosong



"Aku pernah menjadi seseorang dan aku juga pernah tidak menjadi seseorang"

Malam itu ia hanya meminum air putih tidak dengan secangkir kopi dan rokoknya "Sakit tenggorokan" ucapnya. Ia hanya memakan permen untuk sekedar melupakan ingatannya untuk merokok, setelah permennya habis di mulut ia mulai meneguk air putih dan begitu seterusnya. Malam itu pukul sebelas dikedai kopi miliknya ia menceritakan pengalamannya pada suatu hari saat ia masih menempuh studinya dahulu. Lawan bicaranya hanya mendengarkan saja, ia teman lama yang sudah lama juga tidak bertemu namun dahulu saat mereka sama-sama sedang menempuh studinya mereka selalu menghabiskan waktu semalam suntuk untuk mengejar revisi yang tidak ada habisnya. 
"Lalu apa yang terjadi kemudian ?" Lawan bicaranya mulai penasaran dengan yang terjadi hari itu.
"Seperti hari-hari pada biasanya. Aku tertidur dan berimajinasi dalam lamunanku bahwa    ia segera datang" Jawabnya
"Siapa yang datang ?" Lawan bicaranya mulai memandangnya serius.
"Entahlah, haha" 
Lawan bicaranya terlihat kesal karena lagi-lagi ia tidak memberi tahunya. Teka-teki lagi yang ia berikan. Lawan bicaranya rela menyebrang pulau untuk bertemu dengannya, karena jauh hari sebelum mereka bertemu ia mengatakan hal yang menjadi janji mereka jika suatu saat hal yang tidak diinginkan terjadi.
"Kedaiku, lima belas menit lagi, aku tertidur dan tak ingin bangun lagi" Ucapnya dahulu menjadi janji mereka sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres. 
Lima belas menit adalah waktu yang sangat minimal untuk mereka akhirnya berjumpa karena keduanya membutuhkan persiapan. Mereka harus menunggu sampai kapanpun hingga akhirnya mereka berdua bertemu. Lima belas menit mereka akan berjumpa diperjanjian dahulu, karena waktu dan jarak lawan bicaranya harus menempuh perjalanan hingga menyebrang pulau sedang ia sudah menunggunya datang sejak empat hari yang lalu dikedai tersebut. 
"Kalau begini, kau menyia-nyiakan waktuku saja. Kau tahu aku ada proyek besar! Besar! Bahkan sampai aku bisa membuat kedai seperti ini tiga kali lipat lebih banyak!" Lawan bicaranya mulai merapihkan barang bawannya hendak pergi.
"Tunggu, baiklah. Berandaku" Jawabnya dengan memandang mata lawan bicaranya serius. 
Lawan bicaranya mulai kembali duduk dan menghisap rokoknya.
"Baiklah, kenapa?" Lawan bicaranya berbicara sesaat setelah menghembuskan asapnya.
"Ini" Ia memberikan sepucuk surat.
Lawan bicaranya mulai membaca surat tersebut.


Bandung, 9 Januari 2020
Teruntuk Beranda.

Kulit kini mulai terkikis habis,

Rambut pun mulai terlepas satu persatu dari tempatnya,

Foto kedua orang tuaku sudah mulai usang dan berdebu,

Tempelan kertas-kertas darimu juga sudah hampir memudar dan berdebu,

Serta pengeras suara seharga uang sakuku selama satu minggu mulai rusak,

Aku kini sudah merasa usang,

Dalam bayang aku tersenyum,

Aku selalu rindu rumahku,

Disini aku hanya memilikimu,

Aku menyesal dalam perkataanku,

Dalam sikap yang tidak seharusnya ditampilkan,

Disini aku hanya memilikimu,

Semuanya sudah pergi,  

Disini aku hanya memilikimu,

Disini aku hanya memilikimu,

Disini aku hanya memilikimu,

Disini aku hanya memilikimu,

dan begitu seterusnya.



Selesai membaca lawan bicaranya melempar surat tersebut
"Surat ini sudah kulihat sejak sepuluh tahun yang lalu dan kamu! ya Kamu! hanya melakukan hal yang sama sepuluh tahun kemudiannya, Bedebah" Kini lawan bicaranya benar benar pergi.
Ia tersenyum lebar
"Tentu kawan, kau tidak akan tahu rasanya karena kau memiliki segalanya sekarang, aku sudah ditinggalkan semuanya, begitupun kamu sekarang, Kedaiku, lima belas menit lagi, aku tertidur dan tak ingin bangun lagi benar-benar tidak ingin bangun lagi" Ia menangis dengan permen dimulutnya.