Kembali Bersua


Maka biarkan saja ia berlalu-lalang,

Layaknya burung serta air yang terus-terusan seperti itu,

Mereka menawan untuk dilihat bukan ?

Mereka bersua layaknya semuanya baik-baik saja.


Aku sudah lelah mendaki terus-menerus,

Dengan beban dipunggung yang mungkin lebih dari setengah berat badanku,

Dengan air yang terus-menerus dipinta oleh pendaki yang tidak dikenal,

Dengan tenda yang tiap malamnya bergoyang ditiup angin yang kencang.


Biarkan juga ia menulis sesukanya,

Ada perasaan yang ingin ia ungkapkan,

Tapi lebih baik ia sampaikan seperti itu,

Ia selipkan disetiap kata-katanya,

Mungkin tidak akan tersampaikan kepadanya, tapi lebih baik bukan ?


Secangkir kopi ditiap pagi diteguknya suka cita,

Ia belum makan sedari malam,

Begitu juga dengan tidur,

Asam lambungnya naik, tentu.

Kantuknya hilang, tentu.

Ia tidak mau makan apalagi tidur.


Ada yang ingin ia tulis ditiap malamnya,

Menggambarkan betapa bahagianya ia,

Menjadi seorang penulis bagi dirinya sendiri,

Menyatakan cinta kepada dirinya sendiri.


Sayang, burung bersua dilangit-langit

Air mengalir dengan menari,

Ia menulis dengan bernyanyi,

Aku menangis.