Bagaikan benang yang kusut,
sulit untuk kembali lurus,
sesulit itukah sebuah perjalanan?
Layaknya ampas jagung,
ditutupi dengan kemasan kopi,
aku baik-baik saja.
Pintu ini entah kenapa harus tertutup,
Menahan semua yang ada didalamnya,
ditaruh dimana jika isinya keluar?
Benih-benih yang ditanam sudah mulai tumbuh,
Tapi ia masih saja merenung,
tepat di hadapan benih itu.
katanya berkebun bisa menyejukan hati,
tapi kenapa aku menangis?