Kopi Jahe Sore 1

Ada seorang lelaki separuh baya yang datang membawakan satu teko berisi kopi dengan jahe yang dicampur dengan air hangat, lalu kami mulai meminum kopi jahe tersebut. 

Adik ini ada kopi jahe, enak sore sore begini mumpung tidak hujan, diminum diminum.

Memang betul, sore hari begini biasanya saya selepas bekerja berbicara dengan pekerja-pekerja yang hampir sama umurnya dengan saya namun nasibnya tidak sebaik milikku, meminum satu gelas kopi tambah gula berbicara tentang hari ini dan esok apa yang akan dikerjakan.

Tapi ada yang berbeda hari ini, bukan kopi yang dicampur jahe saja, tapi ada sesuatu yang cukup membuat saya memutar pemikiran.

Tadi pagi, saya berbicara tentang cinta dan tujuan, tentang apa-apa arti cinta menurut saya. Memang betul, satu saja langkah yang diambil salah akan berakibat fatal bagi mimpi yang sudah disiapkan sejak lalu.

Berbicara tentang langkah yang salah, menurut saya ada satu hal yang harus dipahami, bahwa manusia sudah dianugerahi Tuhan akal pikiran. Manusia yang berakal pada umumnya mengetahui perbuatan tersebut benar atau salah. Maka dari itu, saya yakin setiap manusia memiliki batas-batasnya tersendiri terhadap perlakuannya. Jika manusia tersebut melewati batas akal pikiran yang dianugerahi Tuhan tadi akan berkata seperti ini

Aku telah melakukan hal yang salah

Sudah sewajarnya untuk berheti dan memutar balik, namun manusia selain diberi akal pikiran, diberi pula nafsu untuk bertindak

Peperangan terbesar adalah melawan hawa nafsu sendiri

Begitulah kira-kira kutipannya. 

Jadi, saya selalu ingat kepada mimpi dan tujuan saya. Untuk apa saya bekerja, untuk apa saya pergi jauh dan untuk apa saya bernafas dan untuk siapa semua ini. Percayalah, jika kalian menetapkan tujuan kalian matang-matang di fikiran bahkan dihati kalian, kalian akan tahu batas mana yang masih bisa dikatan benar.

Penfui, 22 Januari 2022