Bagiku, mencintaimu non, membuatku sadar bahwa kenangan bisa begitu menyakitkan. Bahwa perjalanan tidak selalu baik. Bahwa pertemuan akan diakhiri dengan perpisahan. Bahwa kedatangan akan menuju keberangkatan. Bahwa aku ternyata merindukan senyummu.
Non, tadi sore selepas aku datang ke rumah. Ada senyum Ibu dan Ayah yang berbeda yang aku lihat. Entah, seketika aku ingin menutup mata dan tertidur lelapnya. Nampaknya, aku berfikir berapa tahun lagi kita akan bersama dan menikmati apa yang Tuhan berikan. Kebersamaan ini, senyuman ini dan serta kebahagiaan ini.
Aku rasa, setelah hilangnya sesuatu dari hari-hariku, aku belum siap lagi merasa kehilangan, aku rasa aku tidak mau lagi merasakan kehilangan dan aku benci rasa kehilangan non.
Aku melihat Ibu dan Ayah tertidur tadi.
Entah, entah bagaimana aku bisa bertahan jika pada akhirnya aku harus sendiri.
Aku ingin selalu berada disekeliling orang yang aku sayangi.
Aku ingin pulang kembali.
Aku rindu sekali.
Aku ingin pulang kembali.
YaAllah mengapa aku dibebani hal ini ?
Semua akan indah pada waktunya, begitu katanya subuh tadi.
Apa hal ini memang begitu sakit ?
Mencintaimu non, membuatku tahu rasa kehilangan yang begitu menyakitkan.
Jangan pulang pulang larut malam. Aku tidak ada lagi disana. Jaga dirimu baik-baik. Pantas saja aku tidak bisa tidur.
Katanya dalam sepinya malam di Oesapa.
Oesapa, 31 Maret 2022