Langkah Awal


Kini ku sadar, bahwa apa yang aku percayai, apa yang aku jaga dan apa yang aku inginkan tidak selalu berjalan semestinya. Kini aku ingin merasa lebih sakit lagi, kini aku belum mau memberangkatkan kapal itu. Kau tahu mengapa ? Aku ingin lebih sakit lagi. Aku ingin tahu sejauh mana aku akan bertahan, sampai mana aku bisa terus jatuh, sampai mana aku merasakan muak akan keadaan ini. Ini memang sakit, tapi aku yakin akan lebih sakit didepan sana nanti dan aku ingin merasakan hal tersebut. Mengapa ? Aku sudah tidak percaya lagi dengan apa yang namanya cinta, sayang. Aku sungguh mencintainya, aku sunggu menyayanginya. Aku akan selalu berjalan dalam rasa sakit ini. Aku ingin merasakan lebih sakit lagi. Tinggalkan semua kenangan yang kita bangun, buang jauh-jauh semua yang kita lalui dan bakar semua surat-surat itu. Aku muak setiap malam menunggunya datang, sayang. Aku tidak tahu mengapa hal ini harus menimpaku. Kau tahu sayang ? Aku sudah berjuang bertahun-tahun untuk membahagiankannya. Aku sudah bertahun-tahun merasa bahagia, mengapa ia tidak bahagia denganku sayang ? 


Ingin kutanyakan padamu satu hal sayang, apa aku memang tidak pantas dicintai walaupun aku sangat mencintainya ?


Lalu, mengapa aku selalu merasa sakit setiap harinya, mengapa aku merasa selalu kehilangan tiap detiknya, berhari-hari lalu aku ingin melangkah dua kali lipat dari sebelumnya, aku ingin membentangkan layar lebar-lebar kapal itu, tapi kau tahu sayang? Setiap malamnya Ibunya datang dan berkata "sabar nak, sabar semua akan indah pada waktunya"


Kapan ? Hari esok ? Bulan depan ? Tahun depan atau hingga ku mati?


Aku, sudah memantapkan diri ini untuk tidak mau mencitai siapa-siapa lagi. Biarkan itu menjadi urusan yang Maha Menaklukan hati manusia. 


Adakah masa didepan sana saya benar-benar merasakan bahagia, mah ? 
Akankah benar waktunya akan datang seperti katamu, mah ?
Aku tahu aku salah, tapi sesakit inikah hukuman yang diberikan kepadaku ? Sesakit inikah setiap kali aku membuka mata di malam dan pagi hari ? Sesakit inikah aku kehilangan senyumnya ?
Mah, aku ingin bahagia saat bersamanya.
Mah, selalu datang ditiap ditidurku, kau cukup menghilangkan rasa rindu melihat mukamu yang sangat mirip dengannya.


Aku belum muak menunggu keajaiban itu datang, aku masih menantikan setitik cahaya itu membesar menjadi matahari kembali. Beri aku rasa muak itu. Aku selalu percaya kata-katanya sayang.


Aku tidak mau mencintai lagi, aku kini tidak percaya lagi rasa cinta selain kepada Ibu dan keluarga.


Aku ingin melangkah dua kali lipat dari biasanya. Aku ingin bahagia, aku ingin bersamanya selalu sayang. Aku ingin rumah yang aku bangun itu diisi oleh rasa cinta didalamnya. Tapi, tak apa jika diisi ku seorang. Akan ku isi dengan barang-barang kesukaan dan pemberianmu, aku rasa itupun sudah cukup.


Aku kehilangan kepercayaan akan sesuatu yang namanya cinta, sayang. Untuk apa? Untuk apa aku mencintai seseorang jika pada akhirnya ia tidak lagi mencintaiku meskipun hingga mati aku tau aku akan mencintainya, sayang. Untuk apa aku mencintai seseorang ? Untuk apa aku tanya padamu kali ini.


Kau tahu kan sayang, aku selalu menjaganya, aku selalu berusaha membuatnya bahagia hingga kini walau caranya berbeda. Kemudian apa balasan dari aku benar-benar mencintai seseorang ? Rasa sakit yang tiada henti bukan ? Maka dari itu, lebih baik aku merasakan lebih sakit lagi hingga akhirnya aku lebih muak dengan rasa cinta itu. Lebih baik aku tidak mencintai siapapun dan mati dengan rasa benci terhadap rasa cinta itu.


Aku tidak ingin lagi berharap kepada manusia.


Aku belum muak berpura semua baik-baik saja. 


Kini aku marah pada keadaan pagi ini. Kini aku tidak mau lagi merasakan bahagia jika pada ujungnya rasa sakit yang terus datang. 

Biarkan, biarkan saja aku seperti ini. Aku lebih suka merasakan sakit kali ini. Biarkan aku merasa terjatuh dan tidak bisa bangun lagi. Rasa sakit membuatmu lebih kuat bukan sayang ?


Biarkan hati ini menjadi sekeras batu. Biarkan harapan ini tetap ada disampingku. Biarkan aku membenci rasa cinta itu. 


Aku tidak mau bahagia lagi, jika akhirnya aku harus menerima rasa sakit itu. Kau bohong padaku sayang, kehilangan bukan perihal sabar tapi penerimaan begitu katamu, namun kenapa aku sudah menerima kehilangannya tapi aku masih merasakan rasa hilang dan sedih itu. Apa aku belum merasakan ihklas ? Aku seorang manusia biasa, bukan kiyai ataupun pendeta yang memiliki hati yang lapang dan bisa mempunyai hati yang bisa menerima semua keadaan.


Aku tidak percaya lagi kebahagiaan.
Aku tidak percaya lagi rasa cinta.
Aku tidak percaya lagi harapan.
Aku tidak percaya lagi pelukan.
dan Aku tidak percaya lagi manusia.

Untuk apa aku bahagia sayang ? Jika akhirnya aku harus merasakan rasa sedih ? 

Bagiku kini, senyuman yang ada diwajahku adalah kebohongan.

Bagiku kini, kebahagiaan adalah pintu menuju kesedihan.


Kurang lebih seperti itu surat yang tersimpan di lemarinya yang ia kunci rapat-rapat. Ia kini tidak mau bahagia lagi dan memiliki rasa cinta dan betul, kini hati dan harinya menjadi sekeras batu.



Oesapa, 31 Maret 2022