Ro'o Morika

 

"Mulai sekarang, kita panggil daun ini Ro'o Morika"
Seru Bapak Danramil Koramil 01 Loli Kodim 1613 Sumba Barat pagi tadi.

Ro'o Morika merupakan bahasa Sumba Barat yang berarti Daun Kehidupan. Saya pribadi setuju dengan Pak Danramil Suyono. Beliau sudah mengabdikan dirinya kepada Koramil 01 Loli sejak 18 tahun yang lalu.

Daun Kehidupan
Begitu memang seharusnya daun ini disebut, setelah hampir 5 tahun kami di Timur, membudidayakan tanaman kelor yang merupakan tanaman ajaib karena di dalamnya berlipat-lipat nutrisi ditampungnya.

Daun Kelor NTT dipercayai menempati No. 2 di Dunia karena kontur, iklim dan geografis, NTT diyakini tempat palik layak ditumbuhi tanaman ini. 

Namun, Indonesia menurut UNICEF menempati No. 4 Dunia untuk Wasting dan No. 5 untuk Stunting dan NTT nomor 1 di Indonesia yang mengartikan bahwa NTT salah satu penyumbang terbesar stunting untuk Indonesia sehingga menempati No.5 di Dunia.

Padahal, solusi dari permasalahan tersebut ada di depan halaman rumahnya masing-masing. Mengapa tidak dimanfaatkan ? mengapa dijadikan pakan ternak babi ? dan mengapa beberapa daerah di NTT mempunyai stigma bahwa memakan sayur bening kelor dinilai sudah tidak mampu untuk memenuhi kebutugan pangan ?

Non, kini kau tau alasan mengapa akhirnya jalan yang saya pilih adalah ini. Sebagai salah satu keturunan yang mementingkan kesejahteraan masyarakat, sudah menjadi kewajiban bagi saya untuk kembali pada jalan yang seharusnya.

Perjalanan saya menuju Sumba Barat merupakan perjalanan awal dari saya yang akan mengelilingi seluruh Nusa Tengga Timur untuk memastikan bahwa di depan pagar halaman kalian ada solusi untuk membawa kalian hidup lebih baik lagi, baik ekonomi dan kesehatan. 

Cita-cita kami yang ditugaskan untuk langsung terjun mengatasi hal ini adalah membebaskan anak-anak penerus Indonesia khususnya Nusa Tenggara Timur yang terbebas dari Malnutrisi dan Stunting dan memberikan masyarakat NTT keterjaminan kesehatan dan kesejahteraan di tahun-tahun mendatang.
"Hidup memang harus selaras dengan alam dan alampun akan bekerja dengan kita" ujar paman saya bertahun-tahun kebelakang sebelum akhirnya kita diterjunkan kesini.

"Om memulai ini bukan untuk sendiri, om mau memastikan semua yang Allah berikan itu kita manfaatkan sebaik mungkin. Toh Allah juga pasti melihat perjuangan kita yang tulus dan pasti! pasti Allah balas berkali-kali lipat. Terus jangan naik mobil mogok, lari aja dulu kedepan, kalau udah dapat mobil baru balik lagi terus jemput, itu juga kalau mau dijemput. Haha"  Sambungnya. 

Masih jauh perjalanan saya untuk sepenuhnya memaafkan diri saya. Entah sampai kapan saya akan terus berjalan. Jangankan jalan, mungkin saya kini masih dituntun untuk bisa berjalan sepenuhnya. Masih banyak yang harus saya pelajari disini. Masih belum saatnya saya merasa puas. Masih banyak yang belum saya mengerti mengenai jalannya semesta.

Saya yakin, jauh di depan sana kelak saya akan menemukan jawaban yang hingga kini saya cari.

Hidup memang sebegitu lucunya, dahulu saya merasa di atas langit kini saya merasa bukan siapa-siapa.

Non, Apa kabarmu ? 
Aku yakin kini kau bahagia. Semangat!

Kalena Wano, 23 Maret 2021