Langkah Awal 2


Pujangga itu kini memilih untuk selalu berdiam diri, tidak mau membicarakan apapun. Ia sudah berusaha untuk menerima keadaannya yang sekarang. Ia tidak mau lagi menjadi seseorang yang tidak dihargai.

Lebih baik aku menjadi seorang yang tidak memedulikan hati orang lain. Kini aku tidak lagi dihargai. Perasaan dan hati ini contohnya. Untuk apa aku berharap bahagia ? Jika yang diharapkan tidak membuatku merasa dihargai. Bertahun-tahun sudah aku merasa bahagia dan tahu akan seperti itu selamanya. Namun apa yang terjadi ? Untuk apa aku berjuang membuatnya bahagia jika ternyata bukan denganku bahagianya ? 

Aku berbicara selalu tentangnya disini, apa ia peduli ?
Tidak. Kau tahu itu bukan ? 
Tidak ada ia datang melihatku walaupun sesekali.

Sudah kukatakan sebelumnya, bagiku kini kebahagiaan itu palsu, kebahagiaan itu yang membawaku terdiam di pelabuhan ini. Kebahagiaan itu yang membuat hatiku kini menjadi sekeras batu. Kebahagiaan itu yang membuat aku tidak percaya lagi bahagia itu sendiri.

Begitu ucapnya dipagi hari tadi ditempat diamana ia duduk dan memandangi mukanya setiap harinya. Kemudian kulihat dia menangis tersedu-sedu subuh itu non.

Lalu, mengapa tidak kau cari kebahagiaan lainnya ?
Tanyaku saat ia menarik nafas panjangnya.

Ia memandangiku dengan tajamnya, kemudian ia membakar rokok dengan bungkusnya yang berwarna merah dan putih.

Kau tahu ? Aku sudah mencari kebahagiaan itu jauh 4 tahun yang lalu. Aku sudah mendapatkannya dan percaya kebahagiaan itulah yang aku cari setelah terdiam dibadai pegunungan itu. Setelah semua kebahagiaan yang aku dapatkan dan aku merasa nyaman berada disana. Merasa hangat karena dinginnya badai tadi. Merasa selalu kenyang karena kelaparan tadi. Merasa lengkap karena kesendirian tadi. Namun, ternyata aku ditinggal oleh kebahagiaan itu. Kau tahu ? Semua itu fana. Semua itu tidak bertahan abadi seperti kata seniorku dahulu. 

Kau tahu?  Akan Ada satu yang akan membuatku percaya lagi rasa bahagia.

Kemudian ia menarik nafasnya panjang dan mengembuskannya sambil menahan air mata yang terus keluar dari matanya. 

Apa itu ? 
Tanyaku serius kepadanya.

Kau tahu non ? Ia hanya tersenyum dan seperti tidak siap menjawab pertanyaan yang aku lontarkan. Ia hanya memandangi pelabuhan yang ia bangun dengannya selama ini. Ia hanya mengelus-ngelus foto perempuannya itu dan menaruh di dadanya. Sepertinya ia sangat rindu dengannya. Kemudian ia tertawa.

Aku akan bahagia, jika semuanya berakhir. Aku akan bahagia jika pelabuhan ini sudah selesai dan rumah diujung sana yang sedang ku bangun juga selesai. Aku akan bahagia hidup dalam kenangannya, meskipun aku sendirian selamanya ataupun aku akan pulang ke samping Allah dengan tangannya yang memegang tanganku. Maka, aku akan bahagia. Hingga kini, aku akan selalu percaya, bahagianya tidak bersama denganku dan bahagiaku adalah bersamanya. Iya, besar kemungkinan aku tidak akan lagi kembali bahagia, karena ia tidak bahagia bersamaku namun bersamanya. 

Aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Entah non, aku ingin kembali melihatnya bahagia seperti dahulu kala. Aku ingin kembali melihat senyumnya. Non, apakah kau bisa membantuku ? seperti biasanya kau selalu menjadi solusi atas segala kebingunganku bukan ? Aku percaya padamu non. Selalu.


Oesapa, 2 April 2022
Satu hari menuju Ramadhan yang berbeda.