Langkah Awal 3


Pada malam tadi, Pujangga itu duduk menghadap laut bagian selatan pulau timor. Ia rindu kekasihnya dan selalu menatap keatas langit dengan rembulan yang sedang terlihat penuh.

Kau tahu ? setiap harinya aku selalu rindu kepadanya, selalu ingin menanyakan kabarnya dan selalu ingin melihat senyumnya yang tulus. Aku selalu melampiaskannya dengan sujud diatas sajadah pemberian Ibuku. Dalam sujud tersebut aku selalu berdoa untuk diberikan yang terbaik untukku dan tentu untuknya. Aku ingin kembali merasa bahagia tertawa lepas dan merasa hangat.

Tidak, aku rasa aku tidak sebahagia itu kini, aku selalu merasa kosong dan hampa. Setiap pekerjaan yang aku lakukan kini aku tak tahu lagi untuk apa. Setiap langkah yang aku lakukan untuk selalu maju kedepan kini aku hanya mengikutinya saja tanpa tujuan yang pasti. Setiap sujud yang aku lakukan kini hanyalah tentangku semata. Entah, mengapa aku menjadi seperti ini. Mengapa aku menjadi sekeras batu. Mengapa aku tidak mau lagi percaya kepada Manusia. Mengapa aku tidak berharap lagi kepada Manusia.

Di satu titik aku pernah merasakan begitu tenangnya saat aku berharap kepada Tuhan, aku tahu kini Tuhan adalah satu-satunya yang tidak akan meninggalkanku. Satu-satunya yang selalu bersamaku kini.

Aku kini lelah, tapi aku tak tahu untuk siapa lelah ini, setiap perjalanan pulang dari tempatku bekerja, aku ingin berteriak dan mengeluh sekencang-kencangnya. Tapi, kepada siapa aku kini harus bercerita ? Haha.

Entahlah, kini aku akan terus berjalan mengikuti arus dan tidak lagi memaksakan kehendak. Aku sudah berpasrah kepada Tuhan apa yang akan Ia berikan kepadaku. Namun, satu yang aku tahu, semua akan indah pada waktunya.

Aku percaya lelahku kelak akan menjadi suatu hasil yang bermakna, aku percaya kelak aku akan kembali bahagia meski dengannya atau tanpanya dan aku percaya kelak aku akan benar-benar menjalani hidup ini semestinya.

Ah, laut ini indah tapi tetap saja aku belum merasa bahagia.

Apa sebenarnya bahagia itu ? Apa kau tahu ?

Ia kemudian beranjak dari duduknya dan kembali berjalan lagi dengan sepatu penuh lumpur dari tempat ia bekerja.


Kelapa Lima, 15 April 2022