Tidak ada satu atau dua bahkan tiga dari sekian hari yang saya jalani menjadi berarti kini. Semua yang aku lakukan adalah hal lain untuk saya menjadi lebih jauh lagi melangkah ke depan.
Semua hari-hari itu menjadi kosong dan tidak ada artinya, kini apa yang aku langkahkan menjadi langkah penebusan dosa atas apa yang sudah saya lakukan sebelumnya.
Langkah-langkah ini kini menjadi saksi atas apa yang aku rasakan hari ini, atas apa yang aku perjuangkan selama ini. Ketahuilah sayang, bahwa aku kini mengeluh setelah beberapa hari berlari kencang namun masih nihil.
Aku masih saja berlari ditempat dan kelelahan. Aku kini menjadi seseorang yang mungkin memiliki hati sekeras batu, iya aku kembali pada dimana sebelum aku berjumpa denganmu.
Baru kali ini aku tidak merasakan bahagia pada hari dimana semuanya merayakan silaturahmi. Baru kali ini saya merasa terpuruk dan buruk.
Ketahuilah juga sayang, kini aku berjuang bukan untuk siapa-siapa melainkan hanya untuk aku yang membangun pelabuhan itu seorang diri kini.
Belum ada seseorang yang mengerti bagaimana cara aku berfikir selama ini setelah kembali ke tempat gelap itu namun satu yang aku yakini, bahwa aku akan bertahan hingga kapanpun.
Aku akan bertahan menerima rasa sakit yang telah datang kepadaku, aku akan bertahan dengan gelapnya malam dan aku akan bertahan dengan kekosongan ini.
Aku akan mengembalikan semuanya kepada Yang Maha Membolak-balikan keadaan.
Entah, sampai kapan aku akan berlari ditempat, aku hanya lelah dengan keadaan ini. Aku hanya ingin kembali terbang seperti biasanya.
Haha, kini yang aku ketahui dari perjalanan ini adalah hidup memang tidak bisa dipaksakan dengan keinginan kita, namun kita bisa merencanakan semuanya, namun Tuhan yang memutuskannya.
Aku masih ingin berlari hingga aku mati dengan sendirinya.
Amabi Oefeto, 5 Mei 2022