Kepada: Dermaga Kosong


Entah non, tapi kapal itu sepertinya masih berlabuh pada pelabuhan yang sama, Pujangga itu masih terus membangun monumen yang ia bicarakan.

Sempat ia berlayar sendiri dengan putus asanya, menghantam badai dan menemukan pelabuhan yang baru, tapi serunya

Pelabuhan ini berbeda dengan pelabuhan milikku

Ia kembali ke pelabuhan miliknya seorang, nampaknya ia sangat cinta dengan pelabuhannya meskipun hanya ia seorang disana, membereskan apa yang seharusnya ia bereskan. Membenarkan apa yang seharusnya ia benarkan dan disanalah tempatnya.

Pelabuhan itu memiliki dua dermaga, satu untuk kapalnya berlabuh dan satu milik seseorang dan kini dermaga itu kosong.

Setiap paginya, kini ia selalu berada di dermaga kosong itu, menunggu kedatangan kapal yang pernah bersandar di dermaga itu lamanya, ia tunggu dengan anggunnya, sesekali ia merapihkan dermaga itu jika rusak terkena ombak.

Aku ingin menyambutnya dengan hangat jika ia kembali kesini, aku ingin melihat sekali lagi ia berlabuh disini. Disini semua sudah berbeda, akan aku siapkan satu teh tawar dingin kesukannya saat ia sampai dan juga kan ku siapkan tempatnya untuk beristirahat dengan tenangnya, karena aku tau kini ia telah kembali pulang ke pelabuhannya.

Ah non, jika kau melihatnya Pujangga itu tiap paginya selalu saja bergumam sebelum ia kembali membangun beberapa monumen untuk menyambut kedatanganmu, serunya:

Meskipun ia tidak kembali, setidaknya aku sudah meminta kepada yang Maha Mengetahui bahwa aku mencintainya karenaNya. Ohiya, Bu semalam kenapa tidak hadir di mimpiku ?  Apakah aku masih belum kau maafkan? 

Begitu ia tiap pagi sambil melihat ke arah Laut dengan dermaga yang kosong.

Oesapa, 25 Juli 2022