Langkah Awal: Sebuah catatan terindah.


Kau tahu bu ?
Aku sepertinya selalu menjadi seorang yang kesulitan untuk mencari sebuah jawaban dari kehidupan ini.
Aku juga sering bertanya perihal bagaimana kelak masa depan yang akan aku jalani, akankah sama seperti yang telah aku rencanakan sebelumnya atau berbeda jauh ?

Bu,
Hari itu aku meneteskan air mata didepanmu, pasalnya aku tidak bisa memberikan kebahagiaan yang telah aku janjikan padamu. Meski kau datang dan mengatakan semua akan indah pada waktunya. Aku percaya.

Seperti apa kelak rumah yang akan aku bangun, seperti apa kelak aku akan berdiri, seperti apa kelak aku akan menjadi, seperti apa kelak aku akan mati itu semua akan indah pada waktunya. 

Ada satu yang harus kau tahu Bu, aku akan selalu berusaha untuk membuatnya bahagia meskipun akan jauh berbeda dari sebelumnya. Pasti, akan aku tepati janji yang dahulu, entah bagaimanapun tapi aku akan berusaha lebih lagi. 

Pada perjalanan napak tilas ini, semua aku lakukan seorang diri tanpa ditemani siapapun, aku berkeliling ke tempat dimana semua menghilangkan rinduku padanya Bu. Ada berbagai cara untuk melunaskan rindu meski tidak berjumpa dengannya. Pada perjalanan ini Aku hanya ingin memastikan bahwa aku bisa mengikhlaskan semua yang terjadi, bahwa aku bisa menjadi seorang yang bertanggung jawab, bahwa aku adalah seorang kakak yang selalu bisa melindungi adik-adiknya, bahwa aku selalu belajar dari kesalahan yang lalu dan bahwa aku bisa berjalan diatas kaki sendiri.

Bu, akan aku tutup semua cerita di buku ini, kemudian aku ku simpan rapih di lemari yang terkunci rapat, terima kasih atas waktunya yang telah engkau berikan, atas kesempatan mendapatkan kasih sayang yang begitu indahnya, atas semua yang telah engkau sampaikan.

Mungkin dari perjalanan ini aku tahu bahwa jawaban yang aku cari ternyata tepat didepan mataku sendiri.

Meskipun kelak aku akan menghilang jauh, ketahuilah bu, aku akan selalu ada untuknya, dalam setiap doa dan harapan untuk bisa membuatnya bahagia. Kini mungkin tugasku selesai, kini aku akan kembali berusaha mencari tahu siapa aku sebenarnya, untuk apa aku diciptakan, untuk apa aku dihidupkan dan untuk apa aku ditinggalkan.

Bu, entah sampai kapan lagi aku akan bisa mengunjungi mu.

Aku hanya ingin bahagia seperti dahulu kala, semua perjalanan yang akan aku tempuh adalah perjalanan yang mencari jawaban dari kehidupan ini. Entah seperti apa kelak aku didepan sana, aku akan selalu mengingatmu jauh di dalam hati.

Dahulu, aku ingin mati dengan tanganku digenggam olehnya dibacakan dua kalimat syahadat olehnya dan dikain kafankan olehnya. Diantarnya menuju tempat istirahat terakhirku di Pangandaran dimana semua ada disana menunggu kedatanganku dan ia tersenyum melihatku dan aku akan mengatakan:

Selamat tinggal non, jangan menangis aku selalu tidak suka melihat air mata keluar dari matamu.

Namun kini, terlalu menyakitkan bila aku harus selalu berada disana, dan aku tidak tahu akan ada dimana hari depan, bulan depan, tahun depan.

Aku tahu, bukan aku lagi kebahagiaanmu namun aku tahu disanalah kebahagiaanku dan aku tahu butuh waktu untuk aku kembali mencari makna bahagia itu sendiri. 

Ini adalah tulisan pembuka untuk buku itu biarkan ini menjadi salah satu kenangan kita. Kelak aku akan kembali dengan sesuatu yang begitu bermakna, selamat tinggal kasih, selamat untuk selalu berada di jalan yang telah kau pilih. 
Bu, aku izin pamit untuk waktu yang lama, aku akan pulang pada waktunya, biarkan aku mencari jawaban dari kehidupan yang fana ini. Terima kasih atas segalanya. Atas pelajaran yang telah diberikan. Bahwa kehilangan adalah bagaimana kita ikhlas mengahadapinya. 

Aku telah selesai dan kini aku akan kembali berjalan menuju kegelapan.

Sampai jumpa non, bahagia selalu.

Kuningan, 20 Mei 2022