Bandung 1

 




Non,

Kelak, aku akan kembali terbang kesana. Mewujudkan mimpi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Entah, mimpi ini datang begitu saja dibenak, mungkin karena aku sudah tidak punya tujuan lagi atau mungkin memang aku menginginkan hal ini, aku tidak tahu pasti.

Kemudian, ada satu hal yang selalu aku rindukan dari Bandung, yaitu perasaannya selepas hujan di Jalan Layang yang dahulu kita sebut Pasopati. Meskipun kita tahu sedang hujan tapi tetap saja non kau memaksa untuk memutar dan melewati Jalan Layang itu. Hingga kini, perasaan panik akan basahnya raga karena hujan itu, perasaan bahagia karena ada seseorang yang harus dilindungi, perasaan sedih karena kau harus kehujanan, dan perasaan siap menahan rindu karena aku harus pergi jauh adalah perasaan yang melengkapi sore itu, yang hingga kini aku masih saja ingin kembali ke sore itu.


Nonaku yang manis dan akan selalu manis,

Pernahkan kau membayangkan kembali aku berdiri didepan berandamu? Memberikan helm kepadamu dan aku kancingkan tali helm itu, kemudian aku bukakan pijakan kaki dimotor untukmu? Kemudian aku akan bertanya kepadamu:


"Sudah ? Bismillahirohmannirohim. Mari, non."


Kemudian diperjalanan kita mengomentari berbagai hal yang kita lihat bersama, menuju Dago Atas tempat biasa kita menikmati sore itu, yang selama ini aku tidak pernah melihat menu disana, karena aku tahu betul kau akan memesankan apa yang aku inginkan. Aku hanya duduk dan menikmati pemandangan itu, kemudian aku hanya mengucap:


"Sudah ?"


Dan non kau hanya mengangguk dengan senyuman manis itu, Ah, aku rindu perasaan melihat lengkung dibibirmu itu. Entah, tapi kini aku selalu saja tersenyum jika mengingat hal itu. Non, terkadang kau lebih mengetahui apa yang aku inginkan dibandingkan aku sendiri dan hingga kini, aku harus selalu berfikir dua kali jika menginginkan suatu hal, karena kau tahu betul, tidak ada tempat untukku bertanya. Namun dengan berfikir dua kali lipat, aku bisa tahu mana yang benar dan salah, meskipun keputusan itu terlambat tapi itu yang terbaik.


Nona,

Aku rindu dengan perasaan yang pernah aku alami selama ini, aku rindu akan perasaan ada sesuatu yang harus aku kejar dan lindungi. Aku rindu dengan hadirmu setiap pagi hingga pagi lagi dan aku rindu tentang pembicaraan membangun rumah dengan pintu yang besar itu. Aku mungkin masih mencintaimu, tapi non kembali lagi mencintai tidak harus memiliki. Jika Tuhan berkehendak, didepan sana kita pasti kembali menikmati hujan di Pasopati dan wangi aspal yang basah terkena air hujan kemudian berteduh dikios pinggir jalan melihatmu menggigil kedinginan yang kemudian aku memesan teh tawar panas ke pemilik kios itu untukmu menghangatkan tubuhmu dan aku menghisap satu batang rokok menunggu hujan itu reda dan berbicara dipinggir jalan tentang apapun. Ah, aku rindu perasaan itu. Aku ingin pulang!


Kupang, 26 Agustus 2022