Malam ini, entah mengapa jiwa yang berselubung dalam raga merasa lebih tenang, meskipun aku membanting tulang hingga larut malam dan kini masih tidak kunjung usai. Apa kau tahu mengapa non ?
Aku masih saja mengira-ngira sejak pagi tadi saat aku duduk menikmati kopi hitam yang tiba-tiba disediakan oleh Ibu
Hari ini kamu terlihat lebih cerah
Begitu ucapnya pagi tadi sambil membawakan kopi yang dihidangkan.
Ibu memang selalu seperti itu, ia tahu jika anak tengahnya sedang bahagia ataupun sebaliknya. Ini jarang terjadi, Ibu sangat jarang menyeduh kopi untukku seorang apalagi dengan cangkir lengkap dengan piring kecil dibawahnya. Aku tanya mengapa, serunya
Aku tahu, ini hari yang kau nantikan
Ah, Ibu memang selalu berhasil untuk membuatku memunculkan lengkung dibibir.
Selamat menikmati hari ini ya anakku.
Dari pagi hingga akhirnya hari ini akan berakhir aku masih ingin mengulanginya lagi dan lagi. Beberapa kebaikan datang serentak pada hari ini dan beberapa kebahagiaanpun datang di hari ini.
Ah non, bisa saja mungkin karena hari ini purnama muncul dan menyinari gelapnya malam, dan aku bisa saja membawa pergi purnama itu dan memberikannya untukmu seorang.
Langit malam ini tidak segelap malam-malam yang telah aku lalui, bisa saja karena hari ini berbeda. Mungkin karena senja tadi yang begitu emas yang melengkapi purnama malam ini.
Entah aku tidak tahu mengapa namun aku ingin menyimpulkan bahwa hari ini mungkin menjadi awalan yang baru bagimu untuk kedepannya sehingga perasaan yang kau dapatkan hari ini bisa saja seolah-olah membawaku untuk ikut serta bahagia dan iya tentu hari ini aku begitu damai seperti saat aku melihat lengkung dibibirmu.
Kepadamu non, aku berterima kasih telah membuat purnama ini semakin lengkap.
Kupang, 13 Agustus 2022