Menikmati Bibir Laut

Aku ingin kembali mencintai seseorang non, namun tampaknya Tuhan berkata lain, mungkin Tuhan memberikan aku rasa sepi untuk aku lebih bersyukur atas apa yang aku miliki sekarang.

Aku menikmati setiap proses yang sedang aku jalani hari ini. Rasa sepi ini selalu mengajarkan hal-hal baru untuk jiwa ini. Aku menikmatinya, sungguh. Dengan luka-luka yang terus mengikutiku dari belakang yang ia tidak mau pergi sebanyak apapun aku mengusirnya.

Serpihan hati yang rusak itu kini ada di dalam saku celana akan ku berikan serpihannya padamu kelak untuk kita perbaikinya bersama-sama. Termasuk luka-luka yang mengikutiku itu, mungkin denganmu luka itu akan pergi dengan sendirinya, entahlah aku tidak tahu.

Jendela itu kini selalu tertutup tirai dan aku tidak mau membuka tirainya, aku selalu ketakutan untuk melihat apa yang sedang terjadi diluar sana, katanya lebih baik kita tidak tahu yang terjadi dan biarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya.

Ah non,
Hidup memang tidak menawari pilihan lain selain untuk dijalani, begitu kata El pada buku Pejalan Anarki. Lebih baik untuk aku menutup tirai jendela tapi aku bisa menjalani hidup dengan tenangnya. Aku ingin menutup diri dan biarkan orang-orang tidak mencariku, biarkan aku hidup dengan masa bodoh adalah prinsipnya.

Mengetahui suatu kebenaran mungkin akan menyakitkan, namun membuat hati menjadi lega karena pada akhirnya kita tahu kebenarannya. Tapi, aku memilih untuk selalu menutup tirai itu.

Hingga tiba saatnya aku memberikan serpihan hati itu kepada seseorang yang ingin menyatukannya kembali.

Nona manis sayangku,
Aku kini selalu duduk di bangku yang tepat berada di bibir laut itu, lengkap dengan rasa kagum memandangimu berlayar dengan kapal megah di lautan lepas itu, dengan layar kapal yang dihembus angin berasal dari Timur menuju barat yang artinya kini kau menjauhi tempat aku duduk di bibir laut itu. Tapi aku tahu memang seperti itulah kau akan bahagia.

Aku akan menghabiskan rokok ini lalu mengikutimu dengan kapal milikku nantinya, dengan megahnya aku akan berkata:

Angkat jangkar, turunkan layar kita pergi!
Ada kapal yang harus kita lindungi! 

Nonaku,
Mencintaimu adalah anugerah yang sangat aku syukuri hingga kini, memilikimu adalah lebih yang diberikan Tuhan untukku. Karena dengan tidak memilikimu aku akan tetap mencintaimu karena itu anugerah yang Tuhan berikan untukku.

Kapalnya masih bocor, turunkan lagi jangkar dan naikan lagi layarnya! Kita nikmati dulu purnama ini dipinggir pantai, biarkan ia benar dengan sendirinya. Mungkin esok hari kita baru berlayar.


Oesapa, 17 Agustus 2022

Selamat Ulang Tahun Bu.