Ruang Sendiri

Aku sudah beberapa kali mencoba mengetuk rumah, non.
Rumah sekarang banyak tamu yang datang, aku tidak berani masuk ke halaman rumah.
Banyak tamu yang menunggu di depan rumah itu.
Entah apa yang mereka lakukan, hanya saja aku tidak mau masuk lebih dalam lagi lewat depan rumah itu.

Aku hanya menunggu di depan gerbang sebatang kara,
tanpa siapapun dan apapun yang bersamaku.
Sepertinya kau tahu aku berdiri di depan gerbang rumah bukan? 
Lalu, kenapa tidak kau panggil namaku untuk masuk ke dalam rumah itu? 
Ohiya, tamu mu sedang banyak sekarang.

Namun non,
Rumah itu kita yang bangun sejak awal dari tanah kosong yang kita perjuangkan dahulu bersama-sama.
Sehingga, aku tahu betul ada pintu dari belakang menuju ruangan untukku menunggumu hingga tamu itu pulang sendirinya.
Sehingga, aku bisa melindungimu dari balik ruangan itu jika tamu itu melakukan hal yang membuatmu terluka.
Sehingga, aku bisa melihatmu dari balik ruangan itu.

Iya non,
Kau tahu betul ruangan itu karena rumah itu yang kita bangun bersama dan ada ruang untukku berdiam diri, begitu juga denganmu, kau pun memiliki ruanganmu sendiri bukan?

Mungkin, aku sudah ada diruangan itu sekarang melewati pintu dari halaman belakang rumah. Aku sedang tertidur, hingga bangunnya mungkin aku akan berkemas atau menetap lebih lama lagi, aku tidak tahu.

Namun nona,
Yang pasti adalah aku masih ingin berada di ruangan ini untuk beberapa saat lagi, selain aku rindu dengan rumah yang kita bangun bersama ini, pun aku sedang menikmati luka yang ada.

Ah Non,
Aku tidur sebentar sampai tamu itu hilang, kau ketuk pintu ruanganku yah! Selamat malam nona yang manis

Kupang, 27 Agustus 2022.