Pintu Baru


Non

Sampai sekarang aku masih saja tidak menyukai bandara sebagus apapun bentuknya, pun dengan pintu kedatangan, apa baiknya jika tidak ada yang menunggu di depannya?


Kini aku sengaja menyesatkan diri ke dalam lembahan yang penuh dengan tumbuhan-tumbuhan berduri yang bisa saja melukai raga ini, tapi tenang non, aku memakai baju dengan lengan panjang lengkap dengan sepatu lapangan itu. Intinya adalah aku sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi di lembahan itu.


Non,

Kau ingat dengan monumen yang pernah aku bicarakan kepadamu? Disanalah monumen itu akan berdiri tidak di pelabuhan yang biasa aku nikmati setiap harinya, melainkan di sebrang sana.


Monumen yang kini aku bangun akan menjadi perjalanan panjang bertahun lamanya, sehingga pondasi yang dibutuhkan bukan sekedar pondasi telapak saja, pondasinya harus kokoh se kokoh bangunan yang menjulang tinggi di atasnya.


Nonaku yang anggun bak bunga mawar,

Di Oesapa aku belajar tentang rasa ikhlas serta keputus asaan yang sangat mendalam,

Di Lasiana aku belajar untuk bisa melindungi sesuatu yang membuat kita bahagia,

Di Fatukanutu aku belajar untuk percaya diri dan mengambil keputusan yang tepat untuk kedepannya meski banyak yang tidak suka dengannya,

Di Bajo aku belajar bahwa keindahan akan selalu menetap di ingatan insan lamanya,

Di El Tari aku belajar bahwa begitu bahagianya masih bisa melihat senyuman yang mungkin akan tidak ku lihat lagi untuk waktu yang lama.


Disini tempat aku menjadi manusia yang seutuhnya, menjadi seseorang yang selalu bersyukur atas segala yang dimiliki, berjuang atas apa yang ingin diraih untuk ke depannya dan bahwa Oesapa, Lasiana, Fatukanutu, Bajo dan El Tari berhasil merubah perspektif ku akan kehidupan ini.


Bahwa hidup tidak menawari pilihan lain selain dijalani kata Djazuli Imam adalah benar adanya. 


Entah apa yang ada di depan sana kelak, setidaknya aku memiliki bekal untuk kembali muncul ke permukaan dan menyelesaikan monumen itu sehingga menjadi kebanggan bagiku bahwa aku berhasil membangunnya dan membanggakan kedua manusia yang selalu berdoa untuk ketiga anaknya menjadi manusia yang melindungi manusia lainnya, menjadi manusia yang menolong manusia lainnya yang sedang kesusahan, menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia.


Juga Pasopati akan ku lewati di hari pertama. Lama tak jumpa, Apa kabar Jananuraga? Haha.



El Tari, 8 September 2022