Monolog 2

 


Ada cerita dari seorang manusia yang lahir 25 tahun kebelakang,

dari bukti cinta kasih kedua orang tuanya,

membawa jiwa yang tidak berdosa ini hadir ke dunia.


dengan hampir mengirim ibundanya ke surga, karena ketubannya yang sudah pecah

dengan bobot yang lebih besar dari bayi pada umumnya, ia hadir menangis tersedak.


Ada dua kemungkinan ia menangis

1. karena hadir ke dunia, dan ia tahu betapa beratnya menjalaninya

2. karena senang, akhirnya ia keluar dari sempitnya rahim ibu.


Bertahun-tahun berjalan. 

Dalam sehari-harinya, kini ia selalu gelisah, karena mungkin kemungkinan pertama saat ia menangis pertama kalinya adalah sesuatu yang benar.


Berat. Sungguh.


Kini, ia selalu berharap bahwasannya hidupnya akan layak didepan nanti, hidup bersama dengan orang yang dicintainya. Menggapai mimpinya satu-satu. Tapi, kadang ia juga selalu tidak percaya dengan kemampuannya. Terkadang, ia juga tidak selalu suka dengan keadaan yang sedang dijalaninya. Entah, tapi begitu yang ia rasakan. 

Terkadang ia selalu berfikir, bahwasannya mengapa hidup orang lain begitu indahnya dinikmati, keluarga yang berdekatan, rumah yang bisa menampung keluarga besarnya, mobil yang melindungi dari panas dan hujan.

Tak jarang juga ia malu dengan keadaannya, ia masih berada digaris awal, dan merasa langkahnya begitu sempit untuk dijalani, begitu susah untuk dilewati, begitu berat menerima apa yang ia punya, apa karena mungkin ia selalu melihat ke atas? 

Tak jarang juga ia malu dengan yang dimilikinya, ia berusaha menyamai dengan hidup orang lain yang dirasanya nyaman untuk dijalani. Kini, ia hanya tidur dikasur kapuk, ruangan dengan AC lawasnya, vespa yang sudah tidak seindah dahulu dan baju yang itu-itu saja. 

Tak jarang juga ia berfikir bahwa bisakah ia lebih sederhana dan tidak menuntut lebih dirinya yang selalu mencekik keadaan yang sedang dimilikinya? 

Ia juga sering menghabiskan waktunya dimalam hari dengan melihat mukanya di cermin, berusaha untuk menyemangati dirinya, berusaha mengigatkan dirinya 

"Kamu bukan siapa-siapa, hanya seorang yang baru memulai semuanya, jangan samakan dengan seseorang yang sudah mapan dan memiliki sesuatu yang lebih pasti"

Terkadang, ia berhenti di flyover itu sepulang kerja, menatapi lampu gedung-gedung itu, menghabiskan satu batang rokok hanya untuk menenangkan pikirannya, dan berulang kali dikepalanya pertanyaan itu muncul


"Hingga kapan akan seperti ini?"


Kembali lagi sayang, ia hanya berusaha untuk menggapai mimpinya dikit demi sedikit, berusaha memutar otaknya untuk segera mencapai tujuannya. 

Jika saja kau tahu, betapa menderitanya pikirannya, betapa lelah raganya, betapa sakit hatinya, melihat orang-orang lebih berada jauh diatasnya, meskipun berapa kali ia mencoba, hasilnya akan tetap sama.

Ego dalam dirinya berkata:


"Aku hanya ingin merasakan berada diatas dengan kemampuanku sendiri"


Ia juga terkadang tertawa terbahak-bahak karena merasa tidak dihargai, merasa tidak mendapatkan sesuai apa yang ia perjuangkan, merasa terinjak-injak, namun ia tetap berdiri dan percaya semua akan indah dan ia akan menang.

Ia tidak bisa apa-apa saat ini, karena jauh berada dibawah dibanding yang lainnya, berada jauh didasar jurang itu dan hanya bisa melihat yang lain diatasnya. Terkadang ia juga merasa nyaman didalam jurang itu, karena hanya ada dirinya sendiri dan memikirkan dirinya sendiri.


ah, setidaknya aku bisa mengeluarkan sedikit beban pikiranku.


Selamat ulang tahun ya, yakin selalu bahwasannya hidupmu adalah rencana terbaik Allah untukmu. Apapun didepan nanti, sesakit apapun dijalani, sediinjak apapun harga dirimu, percaya ini adalah rencanaNya yang terbaik untukmu.


Apresiasi dirimu lebih banyak lagi yah, jangan merasa sepi.


Jakarta, 21 Juli 2023